Tugas Akhir · Teknologi Geologi
KARAKTERISTIK ALTERASI BAWAH PERMUKAAN PADA SUMUR CKK-1A DARI KEDALAMAN 250-822 METER WILAYAH KERJA PANAS BUMI DAERAH X, KABUPATEN SUKABUMI, JAWA BARAT
Abstrak
Penelitian ini dilakukan pada sumur eksplorasi panas bumi CKK-1A dari kedalaman 250 – 822 meter yang terletak di wilayah kerja panas bumi daerah X, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Fokus penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik alterasi bawah permukaan dengan menggunakan bantuan analisis mikroskopis dan analisis XRD (X-Ray diffraction). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis litologi, jenis mineral alterasi, zona mineral alterasi, tipe alterasi, temperatur, jenis fluida, dan mengkorelasikan antara temperatur terukur (logging temperatur dan drilling mud temperatur) dengan temperatur mineral alterasi (geotermometer). Pengamatan secara megaskopis dilakukan oleh peneliti menggunakan bantuan loupe dengan perbesaran 20x, sementara analisis mikroskopis dan analisis XRD (X-Ray diffraction) dilakukan oleh pihak laboratorium PSDMBP. Terdapat 5 jenis variasi litologi pada sumur penelitian yaitu, breksi tuf terubah, breksi andesit terubah, andsit terubah, tuf terubah, dan breksi vulkanik terubah. Dari hasil analisis mikroskopis dan analisis XRD, hadir beberapa jenis mineral alterasi berupa klorit, zeolit, karbonat, kuarsa sekunder, tridimit, albit, clay, oxide, dan pirit. Berdasarkan kumpulan mineral alterasi yang hadir, terdapat 2 zona mineral alterasi yaitu: 1) Zona Klorit – Zeolit dari kedalaman 250 – 732,40 meter, 742,25 – 803,60, dan 805,25 – 822 meter; dan 2) Zona Mineral Lempung dari kedalaman 732,40 – 742,25 meter dan 803,60 – 805,25 meter. Zona Klorit – Zeolit diinterpretasikan sebagai Tipe Alterasi Sub Propilitik dengan kisaran temperatur >200°C dan terbentuk pada fluida netral, kemudian Zona Mineral Lempung diinterpretasikan sebagai Tipe Alterasi Argilik dengan kisaran temperatur <180°C dan terbentuk pada Fluida asam mendekati netral. Adapun korelasi antara temperatur terukur (logging temperatur dan drilling mud temperatur) dengan temperatur mineral alterasi hidrotermal (geotermometer mineral) menunjukan adanya ketidak selarasan antara kehadiran mineral temperatur tinggi >200°C, dengan nilai temperatur terukur yang hanya berkisaran 10°C – 58°C. Serta tidak adanya peningkatan panas yang hadir pada Mud Temperatur Out. Diinterpretasikan bahwa mineral penciri temperatur tinggi tersebut telah mendingin dan menjadi fosil. Hal tersebut juga terlihat dari hadirnya mineral lempung temperatur rendah (monmorilonit) di dalam zona klorit - zeolit yang bertemperatur tinggi.
Kata kunci teknologi geologi geothermal
Berkas
Belum ada berkas yang diunggah.
Karya terkait
-
2022
ESTIMASI SUMBERDAYA MINERAL TIMAH ALUVIAL DENGAN METODE INVERSE DISTANCE WEIGHTED (IDW) DI AREA PIT ‘X’, DESA MAPUR, KABUPATEN BANGKA, PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
Teknologi Geologi Airi Rinjani Fatimah Hari Tugas Akhir
-
2022
STUDI PEMODELAN KANDUNGAN SULFUR, ABU DAN KALORI PADA BATUBARA SEAM 4470 DAN 4900 DI BLOK 23 DAN 24 PT. TRUBAINDO COAL MINING KUTAI BARAT, KALIMANTAN TIMUR
Teknologi Geologi Alvi M. Rerizki Tugas Akhir
-
2022
SIFAT FISIK DAN MEKANIKA BATUGAMPING FORMASI RAJAMANDALA, DI DAERAH TAMBANG PT AKARNA MARINDO, DESA CIPATAT, KECAMATAN CIPATAT, KABUPATEN BANDUNG BARAT
Teknologi Geologi Bima Krisna Komsu Tugas Akhir